Karena Saya Ingin Berlari

Penulis : Kadek Sonia Piscayanti

Pemenang 2 Sayembara menulis cerpen tingkat nasional 2005

Narator : Kadek Sonia Piscayanti
Ilustrasi Musik : Endah Fitriana


DOWNLOAD

 

Karena Saya Ingin Berlari

Sejak kaki saya bisa memijak ke tanah, saya telah dilatih menjadi pelari, secara tak sengaja. Sejak usia saya belum genap empat, kata Merti, saya telah berlari mengelilingi desa sebanyak tujuh kali. Sejak saya sadar bahwa saya perempuan, yang ada tak hanya segenggam dendam, tapi juga seiris sakit hati, dan segores luka, bahwa saya pernah dipermalukan di depan semua orang, oleh Bapak saya sendiri. Saya sudah lima tahun, kata orang, ketika berlari telanjang, mengelilingi desa dengan berlari lima kali putaran. Semua orang menikmati tubuh saya, mengupas setiap inci tubuh saya, dan merampas hak asasi saya untuk melindungi tubuh, jiwa……..tunggu, saya tak yakin bahwa itu masih saya miliki. Apakah saya pernah memiliki tubuh dan jiwa? Saya dimiliki. Tubuh saya milik orang lain. Jiwa saya juga. Saya bukan siapa-siapa. Maka, saya tak boleh bertanya apa-apa bahkan terhadap perlakuan keji Bapak saya sendiri.

Lari. Itu komandonya. Saya angkat kaki, berlari. Saya akan berlari sampai ia menghentikannya. Jangan berhenti sebelum komando berhenti! Lalu, lari lagi, berarti saya akan dan harus berlari lagi. Terus lari. Maka saya terus berlari. Jangan berhenti. Saya takkan berhenti. Berhenti. Saya berhenti.

Inilah hidup saya. Seorang malaikat melahirkan saya ke dunia, lalu meninggalkannya segera. Ibu yang tak meninggalkan sepenggal kisahpun. Ia mati saat melahirkanku. Sejak itu, saya mulai garis nasib saya. Sejak lahir hingga tujuh belas, saya tak pernah kenal kata yang bermakna “milik saya”. Semua ditentukan oleh Bapak. Semua digariskan oleh Bapak. Tuhan kecil adalah dia. Dan saya, kelinci pemuas amarahnya. Suatu hari, tanggal 4 bulan Maret 1989,  saya melakukan kesalahan “besar” yang perdana. Saya mencuri uang Bapak lima ratus rupiah di saku celananya. Dengan riang saya melenggang ke rumah Merti. Merti sepuluh tahun lebih tua dari saya. Tapi dialah satu-satunya manusia yang mau berteman dengan saya. Yang lain tak ada.

Ulang tahun yang kelima, cita-cita saya cuma menraktir Merti ketupat sayur dekat pertigaan desa, karena saya cuma punya Merti seumur hidup saya. Seolah telah mencium bahaya, Merti takut-takut bertanya, “Kamu sudah lapor Bapak?”

Saat itu, uang lima ratus rupiah yang saya curi, tiba-tiba jatuh sendiri, lepas dari tangan saya. Saya gemetar. Merti tahu. Dia ketakutan. “Nanti kau dihukum lari.”

Benar. Bapak marah besar. Ia memaki-maki, menyumpah-nyumpah, lalu melucuti pakaian saya.

“Lariii!” teriaknya membahana. Seisi dunia mungkin mendengarnya. Bagi seorang bocah lima tahun, teriakan itu adalah amanat yang harus dilakukan segera, tanpa banyak buang waktu, tanpa banyak bertanya, bahkan untuk satu kata tanya sekalipun, “mengapa?”

Telanjang tubuh, telanjang jiwa, telanjang setelanjang-telanjangnya, tanpa alas kaki atau apapun, saya meyakinkan diri saya bahwa semua akan baik-baik saja jika saya berlari. Bapak adalah Bapak. Anak adalah anak. Hubungannya, jika Bapak menghukum anak, anak wajib menurut. Saya wajib menurut. Alam wajib menurut, turut mendukung Bapak, menghukum saya. Matahari bersinar seterik-teriknya, membakar kulit dan jiwa saya. Angin menantang saya, menyapu tubuh kecil saya, ingin menumbangkan keteguhan bocah lima tahun dari tugas suci yang diembannya. Saya tetap berlari. Di jalan, orang-orang menjadi penilai. Mengamati langkah saya, menikmati tubuh saya tanpa terbalut benang. Beberapa mendesis, “Cantik, mulus.” Saya baru memahami sekarang. Saya suka menaganalisa kenangan-kenangan. Saat ini saya mengingat lagi semua kenangan itu. Saya bisa menilai. Yang mengomentari saya cantik dan mulus itu mungkin pedofil sejati, yang menangkap kemolekan tubuh saya saat bocah dan polos. Waktu itu saya terus berlari. Di tikungan, seorang nenek menangis melihat saya, “Apa dosanya?”. Di pasar, orang-orang berkerumun, “Jual saja anak itu, kalau ia harus menjalani hukuman setiap hari. Saya yang membeli.” Saya tersenyum. Saya masih ingat yang bilang begitu adalah dagang sate ayam depan pasar, yang melihat semua benda adalah barang, komoditi. Saya terus berlari. Memang saya harus peduli? Sebagian orang berkomentar, “Kasihan.” Saya dikasihani. Terharu, melihat penderitaan saya. Heh, peduli apa? Belum ada perintah berhenti, saya tak berhenti. Terus berlari. Merti menangis di balik selokan. Ia lelah menemani saya berlari, di selokan. Ia tak bisa dan tak boleh menemani saya bersisian berlari. Tidak diijinkan oleh Bapak. Sembunyi-sembunyi, dia membuntuti saya dari selokan ke selokan. Bertahan di genangan air mati yang menjijikkan. Memastikan diri sebagai sahabat sejati. Gila!

Itu bukan pengalaman pertama. Masih banyak lagi hukuman yang pernah saya jalani. Semua hukumannya adalah hukuman berlari. Meskipun saya perempuan, Bapak tak peduli. Kata Bapak, perempuan harus kuat, tidak seperti Ibu. Bapak memang sial. Ia terlalu sering memaki Ibu. Ia bilang Ibu lemah. Tak berdaya. Murahan. Pelacur. Ya, dia bilang begitu. Lalu, apa yang salah dengan saya. Ibu mungkin pelacur atau apa saja. Tapi pentingkah saya yang menanggung semua kesalahannya? Saya tak peduli Ibu pelacur atau bukan, bahkan tak peduli saya sebenarnya anak kandung mereka atau bukan. Saya cuma  bermimpi tentang keadilan. Kapan dunia ini adil bagi yang lemah?

Setiap hari dalam hidup saya adalah hukuman. Menjatuhkan minyak ke tanah, saya dihukum berlari. Salah mencuci baju, saya dihukum berlari. Salah buang air besar (saya berak di bak mandi), juga dihukum berlari. Naik ke atas pohon jambu, saya dihukum berlari. Tak ada pembelaan untuk saya. Jadi tindakan apapun yang saya lakukan tidak pernah saya yakini benar sebagai sebuah kebenaran. Saya cuma tahu satu kebenaran : kata-kata Bapak. Semua yang diucapkannya. Semua perintahnya.

Maret tanggal yang sama, 1991. Saya memergoki Bapak menindih penjual rujak di belakang rumah. Mereka berpeluh dan melenguh. Ranjang bergoyang dan berderang. Mereka sedang berpagut dan bergelut. Bapak melihat saya. Kiamatlah dunia!

Pakaian saya dilucuti, dan

“Lari! Cepat!”

Kali ini, dunia tak mendengar. Yang mendengar cuma saya, gadis kecil, tujuh tahun.

Saya berlari. Orang-orang masih menjadi penonton. Mereka masih berkomentar seperti dulu. Para pedofil, mulai berpikir kotor, akan meremas saya di tempat yang sepi. Dada saya telah berbatu, saya merasa sakit. Saya malu. Tapi terus berlari. Para pedofil membuntuti saya. Larilah sekencang-kencangnya! Kaki saya berlari jauh, para pedofil mengejar, sementara Merti tak mampu mengejar. Ia bersembunyi di selokan, seperti biasa. Tubuhnya makin gendut dan ia jadi lamban. Ia melihat para pedofil itu mengejar saya.

Tapi saya terlalu cepat untuk para pedofil itu. Saya lincah dan tahu arah. Matahari membakar tubuh saya, tapi tak membakarhanguskan semangat saya untuk terus berlari.  Saya telah menempuh jarak bermil-mil bila semua hukuman saya digabung menjadi satu, dan kecepatan saya berlari telah mendekati kecepatan motor pada jalan datar, empat puluh kilometer per jam. Saya sanggup berlari sejauh-jauh yang saya inginkan, karena kenangan buruk saya terlalu banyak untuk saya jadikan bekal menemani perjalanan saya. Bekal roti mungkin bisa habis, tapi bekal kenangan akan menemani kita seumur hidup. Merti pasti terisak. Ia tahu kepala saya penuh dengan mimpi buruk dan kenangan buruk. Ia tahu saya dendam, bukan hanya kepada Bapak, tapi pada keadaan. Merti tahu semua. Termasuk tahu, kecepatan berlari saya telah mencapai empat puluh kilometer per jam.

“Berhenti!”

Suara Bapak. Tak usah diragukan lagi. Biasanya, kaki saya akan refleks berhenti. Tapi kali ini, kaki saya tak bisa berhenti.

“Berhenti!!!!!”

Bapak lagi. Saya masih berlari. Kecepatan saya bahkan meningkat menjadi enam puluh kilometer per jam. Saya merasa tubuh saya melayang begitu ringan, begitu halus. Orang-orang tak ada. Saya dibungkus angin menembus lorong yang tercipta tiba-tiba di depan saya.

“Berhentiiiiiiii!!!!!”

Bapak lagi. Saya bingung. Saya seharusnya tahu ini saatnya berhenti. Tapi tubuh melarikan saya. Merti pasti menangis. Kala itu saya tak peduli, bahkan kepada Merti. Saya cuma peduli bagaimana menghentikan lari saya.

“Berhentiiiiiiiiiii!!!!!!!”

Suara orang-orang kampung.  Mereka mengepung.

Saya berbelok ke jalan besar yang ramai. Orang-orang yang mengepung kehilangan saya. Saya menyelip-nyelip begitu lincah dan gesit, ke balik bis, ke balik motor, ke balik sedan mewah. Orang-orang yang tekun masih tersisa mengepung saya. Bapak paling depan. Saya terus berlari. Lalu lintas macet karena para pengepung berlari tak tentu arah, membuat para pengendara kebingungan, tak tahu arah. Saling menghindar tapi tak bisa. Sepeda motor melaju entah kemana, suara tabrakan keras terdengar kemudian. Seorang pedofil yang menyetir mobil menikmati dada saya dengan matanya. Ia melepas tangannya dari stir mobil, hendak menjamah tubuh saya. Mobilnya tak terkendali. Kekacauan terjadi lagi. Para pengepung tak putus asa. Makin lama jumlah mereka makin banyak. Saya cuma berlari ke depan, apakah saya melarikan diri? Saya sesungguhnya tidak berencana begitu. Tapi para pengepung memaksa saya. Ambisi mereka mendapatkan saya. Sementara kini, kecepatan saya telah beranjak, mungkin ke angka tujuh puluh. Polisi ikut mengejar saya. Kali ini dengan motor. Saya mengacaukan kepentingan umum. Penjara telah mempersiapkan penyambutan bagi bakal calon tamu baru, saya.

“Sunia!”

Suara Merti. Merti juga mengepung saya?

Saya berlari lebih pelan. Kenangan buruk masih cukup banyak untuk menemani saya. Tapi Merti? Ia pasti sungguh-sungguh ingin saya berhenti. Saya berhenti.

Semua orang berhenti mendadak. Kecelakaan bertubi-tubi terjadi di belakang saya. Bapak mendekat. Ia menyerahkan saya tanpa perasaan berdosa kepada polisi.

“Hukum saja, Pak. Ia mengacaukan tugas Bapak dan mencelakakan orang lain.”

Berikutnya, kantor polisi. Pengadilan. Apa lagi, entahlah. Saya tak peduli, dan saya toh tak bersalah. Polisi membebaskan saya. Saya sadar untuk pertama kali, saya puas. Saya ingin berlari lebih jauh lagi, merencanakan pelarian diri. Tujuh tahun usia saya. Kecepatan lari tujuh puluh kilometer per jam telah saya kantongi. Apalagi yang saya perlukan? Selain Merti, saya tak punya alasan apapun untuk tidak pergi. Jadi, Merti harus saya ajak serta.

***

Semenjak itu saya mencoba melarikan diri berkali-kali. Sampai usia dua belas, saya belum berhasil melarikan diri. Berkali-kali gagal karena Merti mencegah saya. Bapak tak peduli. Setiap ketahuan akan melarikan diri, saya dihukum lagi berlari, berlipat-lipat kali. Saya mulai menikmati hukuman saya. Maka, Merti saya latih berlari. Meskipun hasilnya tidak begitu memuaskan, saya tak putus asa. Saya harus lari. Karena saya ingin berlari. Sejujurnya, saya tak bisa tenang tanpa berlari. Saya tak bisa diam. Kaki saya gatal ingin terus berlari. Menghabiskan kenangan buruk yang bertumpuk-tumpuk di batok kelapa saya. Saya ingin lari. Karena saya ingin berlari sampai tua. Karena dendam saya pada Bapak dan keadaan tak akan pernah terbalaskan, seumur hidup saya.

Tapi Merti menolak.

“Jangan berlari lagi.”

Ah, Merti terlalu cengeng.

“Mengapa?”

“Karena aku tak ingin berlari.”

“Siapa yang menyuruhmu berlari?”

“Tak ada, tapi jika kau berlari, aku ingin menemanimu…”

“Itu bukan kemauanku. Sejak kecil, kau memang suka membuntuti aku berlari, meski aku tak meminta.”

“Memang aneh. Tapi aku sudah bertekad kalau aku akan menemanimu berlari.”

“Tekad? Kau punya tekad? Beruntung sekali. Aku bahkan tak tahu mauku apa. Aku ingin berlari. Itu saja.”

“Jangan keras kepala. Bapakmu sudah tua. Ia sudah lelah menghukummu. Ia sudah tak mampu mengucapkan perintah lari dengan tegas. Ia tak akan menghukum jika kau tak mencoba melarikan diri lagi. “

“Aku akan berlari meskipun tidak dihukum oleh siapapun. Aku ingin berlari menjelajahi seluruh dunia ini dengan kakiku sendiri. Kau tahu kecepatanku kini hampir delapan puluh kilometer per jam. Sebentar lagi aku akan keliling dunia. Kau ikut?”

“Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Karena aku telah bersumpah untuk menemanimu selamanya. Kau harus tahu sekarang, aku mencintaimu.”

Diciumnya bibir saya dengan mesra. Dia menutup matanya. Saya tak menikmatinya. Merti adalah kakak saya. Bagaimana mungkin dia jatuh cinta kepada saya? Tapi bagaimana saya menolaknya?

Bibirnya masih menempel di bibir saya, ketika Bapak memergoki kami berdua.

Saya dihukum lagi.

***

Saya berlari terus menerus tanpa henti. Bekal kenangan buruk saya berlipat-lipat sejak Merti menyatakan cintanya. Saya tak paham apa itu cinta. Saya tak paham apa-apa. Kala itu saya tiga belas tahun. Saya hanya tahu berlari. Saya sendiri. Merti tak ada di sisi saya lagi. Saya berlari karena ingin berlari. Tak ada yang mengejar saya. Tak ada yang mampu menangkap saya. Tak ada yang mampu mengalahkan saya. Kecepatan saya telah mencapai sembilan puluh kilometer per jam. Dan saya tak akan berhenti.

1 Comments

Leave a Comment