Lapangan Sepakbola Baru

Spread the love

Cerita Anak: Irma Agryanti
Versi Cetak : Antologi Memetik Keberanian, Gora Pustaka Indonesia 2019
Narator: Abednego Afriadi
Ilustrasi music Endah Fitriana

“Hari ini kami belum bisa main sepak bola lagi,” kata Dion dengan kesal sambil memasang wajah cemberut kepada ayahnya. 

“Jangan kesal begitu, Dion kan masih bisa bermain yang lainnya, kelereng barangkali.” Ayahnya kali itu mencoba membujuknya agar tak murung lagi seraya menawarkan permainan yang lainnya yang tak membutuhkan tempat seluas lapangan sepak bola, tempat biasa Dion menghabiskan sore hari dengan kawan-kawan sepermainannya.

Memang semenjak bencana gempa bumi melanda pulau kelahirannya, hampir semua lahan kosong dipenuhi oleh tenda-tenda pengungsian tak terkecuali lapangan sepak bola di dekat rumah Dion yang menjadi tempatnya biasa bermain juga telah dipenuhi oleh tenda-tenda pengungsian. Dion sendiri tak ikut mengungsi ke lapangan sepak bola karena halaman rumahnya sudah cukup luas untuk menjadi area pengungsian di malam hari bagi Dion, ayah serta ibunya.

“Aku rindu main sepak bola lagi. Aku bosan kalau hanya bermain kelereng di halaman rumah terus,” sungut Dion. Ia ingat ayahnya tempo hari mengatakan kalau gempa bumi yang terjadi akan segera selesai dan dia membayangkan akan bisa bermain sepak bola lagi. Tetapi nyatanya meski frekuensi gempa sudah mulai menurun, orang-orang masih ada di pengungsian dan belum berani untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.

Keesokan harinya sepulang dari sekolah, Dion kembali menyambangi lapangan sepak bola yang dijadikan tempat pengungsian untuk melihat-lihat apakah hari itu para pengungsi sudah ada yang kembali ke rumahnya. Tetapi sesampainya di sana ia kembali kecewa. Sore itu ia masih tak punya tempat untuk bermain sepak bola.

“Ini semua gara-gara gempa. Kenapa harus ada bencana gempa bumi yang seperti ini. Coba kalau di bumi ini tak pernah terjadi gempa pasti aku bisa main sepak bola sepanjang waktu,” gerutu Dion sambil berjalan lesu di antara tenda-tenda pengungsian.

“Tapi kalau tak ada gempa bumi juga tak baik lho,” kata seseorang yang muncul tiba-tiba dari belakang Dion. Dion terperanjat. Ia tak menyangka kalau ada seseorang yang diam-diam mendengar gerutuannya tadi. Dion menolehkan kepalanya dan mendapati seorang perempuan yang kira-kira usianya lebih muda dari ibu guru di sekolahnya. Dion kemudian menjadi tersipu malu karena tak menyangka ada seorang perempuan cantik yang tahu-tahu mendengar ocehannya sedari tadi.

“Kamu boleh panggil aku Kak Luna. Kak Luna sedang menjadi relawan di pengungsian ini. Kalau belum bisa main sepak bola, kamu boleh juga ikut bermain dengan Kak Luna dan kawan-kawan yang lainnya di sini. Nanti kita bisa bernyanyi bersama, menggambar atau mendengarkan kak Luna bercerita. Kamu pasti suka.” Mendengar ajakan kak Luna yang cantik itu seketika membuat hati Dion menjadi terhibur. Sore itu Dion menghabiskan waktu bersama Kak Luna dan kawan-kawan lainnya di pengungsian. Mereka bernyanyi dan menggambar bersama. Dion begitu gembira dan berjanji besok akan datang lagi untuk mendengar Kak Luna bercerita.

Esok harinya di pengungsian yang sama bersama anak-anak lainnya, Dion menunggu kak Luna untuk mulai bercerita tetapi rupanya Kak Luna tak hendak menceritakan dongeng kerajaan seperti dugaan Dion melainkan cerita tentang bagaimana terjadinya gempa bumi.

“Jadi apa perlunya kita tahu tentang peristiwa gempa bumi, Kak?” Tanya Dion.

“Supaya kita bisa lebih waspada terhadap kondisi lapisan bumi yang ada di bawah kita ini. Tetapi selain mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk, kalian juga harus tahu, dengan terjadinya fenomena alam gempa bumi, kandungan nutrisi di permukaan bumi bisa mengalami perbaharuan kembali sehingga dapat ikut menjaga keseimbangan alam kita.”

“Terus apa lagi, kak?” Tanya Dion semakin antusias.

“Gempa bumi juga dapat memicu timbulnya daratan-daratan baru yang bisa difungsikan sebagai tempat tinggal kita juga lho.”

“Berarti bisa ada lapangan sepak bola yang baru juga dong, Kak?” sahut Dion dengan mata berbinar-binar.

Kak Luna mengagguk dan tersenyum ceria ke arah Dion. Kini Dion menyadari kalau ternyata gempa bumi tak selalu menyebalkan. Ia kemudian membayangkan sebentar lagi akan muncul sebuah daratan yang jauh lebih luas dari pengungsian itu supaya nantinya bisa dijadikan lapangan sepak bola baru olehnya dan kawan-kawannya.  (*)