Sepanjang Hari Hujan

Spread the love

Cerpen Tjak S Parlan
Terbit di Harian Padang Ekspres, 13 November 2016
Narator Noer Atmaja

Sekembalinya dari dapur, Zubay langsung duduk di sampingku. Ia meletakkan teko dan memutar pegangannya ke arahku. Aku menuangkan teh ke dalam dua cangkir porselen di atas tatakan piring itu; satu untuknya dan satu untukku. Cahaya lampu menerangi ruangan tempat kami berada. Remang cahayanya membuat meja kayu di depan sofa panjang tempat kami duduk bersebelahan, menjadi tampak lebih tua. Kini ruangan itu berbaur dengan aroma tipis teh hangat yang khas dan bau hujan dari luar yang menyusup hingga ke dalam.

“Ah, aku lupa. Apa kau ingin beberapa potong roti?” tanya Zubay.

“Sudahlah. Biar aku saja.”

Aku beranjak ke dapur tanpa menunggu persetujuan Zubay. Saat aku kembali dengan beberapa potong roti dan sebotol selai, Zubay mulai menghirup tehnya dengan meniup bibir cangkirnya terlebih dahulu. Zubay tidak pernah lupa dengan kebiasaannya yang satu itu. Bahkan saat ia sedang minum air dingin pun, kebiasaan itu masih terbawa-bawa. Aku kerap tersenyum saat memergokinya.

“Cuaca semakin buruk. Mereka tak akan datang lagi.”.

“Mungkin saja begitu. Hmm, dingin sekali.”

“Apa kau ingin merokok?” tanya Zubay.

Aku mengambil sebungkus kretek dari dalam saku jaketku dan meletakkannya di atas meja. Sudah berhari-hari rokok itu tak berkurang satu batang pun. Aku hanya sesekali menciumnya, sekadar mengobati ketagihanku pada aromanya. Belakangan dadaku sering terasa sesak dan Zubay mulai batuk-batuk. Jadi kupikir, tak ada salahnya jika aku berhenti merokok. Setidaknya menunggu hingga kondisi Zubay normal kembali. Tentu saja, semoga pada saat itu juga dadaku sudah tidak sesak lagi.

“Benar, mereka tak akan datang lagi. Bagaimana menurutmu?” Zubay kembali menegaskan pertanyaanya kepadaku.

“Entahlah, dengan hujan dan angin seperti ini? Ya, walaupun sebenarnya mereka biasa berkendara, kan?”

Sekilas Zubay menatapku. Sambil menahan batuk, ia mengoleskan selai kacang di atas setangkup roti tawar dan menyodorkannya padaku. Aku menerimanya dan membagi separuh untuknya. Tapi ia menolak. Zubay memilih kembali menghirup tehnya. Sesekali matanya menyinggahi seonggok pesawat telepon yang kedinginan si sudut ruangan. Sejak menempati rumah ini, kami tak pernah memindahkan pesawat telepon itu dari sana. Benda itu selalu tidur manis di atas sebuah meja marmer mungil. Belakangan benda itu semakin jarang berdering hingga membuatnya tampak begitu bosan dan kedinginan.

“Semakin lebat. Kenapa tak kau tutup saja tirainya?” Zubay beranjak ke depan. Ia menarik tirai jendela kaca yang sengaja kusingkap untuk melihat pemandangan di luar. Tumben, kali ini ia protes. Biasanya Zubay juga senang melihat rintik-rintik hujan di luar melalui tirai yang terbuka separuhnya itu, apalagi jika diselingi dengan minum-minum teh dan kudapan a-la kadarnya. “Nanti kalau mereka datang, kan juga terdengar suara klakson mobilnya,” katanya kemudian.

“Makanlah dulu barang sepotong. Kalau kau mau, sebentar biar kuhangatkan kari untukmu. Apa selai ini akan membuat batukmu bertambah parah?”

Zubay hanya menggeleng. Aku segera mengoleskan selai pada setangkup roti lainnya dan memberikannya pada Zubay. Kali ini ia menerimanya setelah terlebih dahulu membagi separuhnya untukku. Zubay tampak sedikit menikmatinya. Tiba-tiba aku teringat koran harian yang belum selesai kubaca tadi pagi. Di rumah ini, akulah yang paling rajin membaca koran. Zubay lebih suka membaca resep masakan di sebuah majalah. Dulu, saat anak-anak kami masih sering datang, mereka selalu membawakan majalah wanita untuknya. Setelah membaca, Zubay akan suntuk mencatatnya dalam sebuah lembaran-lembaran kecil dengan bahasa yang dipilihnya sendiri. Lalu pada sebuah Minggu pagi —saat aku masih mengantuk— Zubay akan lupa di mana menaruh catatanya dan mulai berteriak dari dapur. Jika sudah begitu, aku harus menemaninya di dapur dan membacakan resep untuknya langsung dari sumber aslinya sampai ia menyelesaikan tamasya kulinernya.

“Sepertinya masih akan lama kondisi seperti ini. Makin parah dengan terputusnya akses ke luar kota akibat salah satu jembatan penghubung ambrol gara-gara banjir. Jadi beberapa kendaraan harus jalan memutar memilih jalur alternatif…”

“Di tengah hujan seperti ini?” sela Zubay. “Ini pasti gara-gara sampah. Entahlah, sampai kapan kota ini akan terbebas dari banjir. Bagaimana menurutmu?”

“Ya, bisa jadi. Tapi aliran itu tidak hanya mampat di sana saja. Coba kau lihat di seputaran sini. Bagaimana mungkin di atas sepanjang trotoar yang dulunya saluran irigasi itu berdiri bangunan-bangunan baru. Bagaimana air bisa mengalir?”

Zubay meraih sweater yang sedari tadi tersampir di punggung sofa dan memakainya sambil menguap kecil beberapa kali. Aku kembali menuangkan teh ke cangkirnya yang masih berisi setengah. “Tambah lagi, biar lebih hangat badanmu,” kataku.

Aku melirik arloji di tanganku. Sudah hampir pukul dua siang. Meskipun derasnya mulai berkurang, hujan tampaknya masih lama akan berhenti. Satu dua kilatan petir menembus jendela kaca yang bertirai di ruang tamu hingga cahayanya sebentar mampir ke wajah kami. Gelegar suaranya sedikit mengagetkan Zubay.

“Jangan-jangan mereka juga terjebak di sana. Tapi mereka pasti berkabar, kan?”

“Tentu saja mereka akan memberi kabar,” kataku selang-seling menatap Zubay dan pesawat telepon yang mengonggok bisu di meja marmer itu.

Kali ini, tiba-tiba aku benar-benar ingin menyalakan rokok. Aku mungkin bisa merokok di dapur sambil menghangatkan kari untuk makan siang kami berdua. Tapi mendengar batuk-batuk kecil Zubay, aku menjadi tidak tega untuk meninggalkannya. Lalu seperti biasa, seperti seorang pecandu yang putus asa, aku menghirup aroma kretek itu tepat di ujung hidungku.

“Apa kau ingat, di mana aku menaruh sirup rasa jeruk itu?” tanya Zubay

“Tadi aku melihatnya. Biar kuambilkan.”

Aku berlalu ke dapur, berharap bisa menemukan obat batuk yang pernah kulihat sebelumnya. Seingatku ada di atas kulkas. Tapi sekarang di mana? Apa aku memasukkannya kembali? Ah, tidak mungkin. Aku tadi cuma mengambil roti. Aku ragu, meski akhirnya kubuka juga. Dan ternyata benar, sirup obat batuk itu berderet bersama dengan dua botol selai yang sudah kosong isinya. Aku tersenyum waktu mengambilnya. Sambil menertawai ingatanku sendiri aku kembali ke ruang tamu.

Aku segera membuka tutup botol obat batuk yang sekaligus dijadikan takaran untuk meminumnya itu. Setelah menuang ke takaran sesuai dengan yang tertera dalam aturan pakai yang begitu sulit kubaca, aku memberikannya pada Zubay. Zubay menerimanya dan langsung meminumya dengan sekali teguk.

Aku kembali duduk di samping Zubay dan mulai melanjutkan membaca koran. Beberapa pejabat daerah yang tersangkut korupsi masih terus memiliki peluang sebagai headline sepanjang minggu ini. Hanya saja, kali ini foto halaman muka menampilkan sebuah jembatan yang ambrol, dengan beberapa mobil, sepeda motor dan orang-orang yang berkerumun di sekitarnya. Tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut. Meskipun begitu, sempat membuat jalur macet total hingga beberapa hari ke depan. Beberapa berita lainnya hanya seputar kenaikan harga. Langkanya bahan-bahan baku di dalam negeri hingga harus rela mengimpor dari negara lain, ada juga beberapa berita hiburan yang ringan.

Setelah selesai menyusuri lembar demi lembar halaman berita, aku berhenti sejenak di halaman hiburan. Sepertinya aku tertarik untuk mengisi TTS. Aku mulai mengingat-ingat di mana aku bisa mendapatkan pensil atau semacamnya. Aku baru saja akan bertanya pada Zubay yang mulai tampak gelisah, ketika ia menyelaku dengan sebuah pertanyaan.

“Apa kita harus setuju dengan ajakan mereka? Maksudku apa kita memang harus ke sana, tinggal di rumahnya?”

“Tenanglah. Jika kau mau kita bisa tinggal sementara waktu di sana. Kau bisa memilih di rumah Nito, Bram, atau si bungsu, July. Iya, kan? Mereka akan patuh pada keputusan kita. Lihat saja nanti,” aku mencoba menenangkan Zubay.

“Aku berharap merekalah yang di sini. Ya, salah satunya. Menetap. Kau tahu, mereka semua tumbuh besar bersama-sama di sini, bukan? Semuanya di rumah ini.”

“Ya, aku tahu itu. Tenanglah. Aku selalu bersamamu. Mereka juga.”

“Tapi mereka belum pernah datang lagi. Apalagi dalam cuaca seperti ini. Benar, kan mereka akan datang?” Zubay semakin bersikukuh dengan pertanyaannya.

Aku berhenti membaca koran dan menaruhnya di atas meja. Menuangkan kembali teh yang sudah berkurang hangatnya ke dalam cangkirku. Mengoleskan kembali selai kacang di atas setangkup roti lainnya, membaginya berdua untukku dan untuk Zubay. Sementara, di luar hujan masih terus berderai; meski kecil-kecil sepertinya akan menjadi rintik-rintik yang tahan lama.

Zubay mencoba menikmati roti selai buatanku sambil terus menahan batuk. Rupanya sirup yang diminumnya tadi belum cukup bereaksi. Bahkan batuk-batuk itu semakin tinggi intensitasnya. Wajahnya tampak kelelahan. Sebulir keringat dingin pecah di keningnya. Keningnya terasa hangat saat tanganku menyentuhnya dengan lembut.

“Ya, Tuhan. Kau mungkin kambuh lagi. Biar aku teleponkan dokter untukmu,” kataku sambil berlalu meraih gagang telepon.

Namun aku terus termangu menatap angka-angka di tubuh pesawat telepon itu. Tiba-tiba itu menjadi sebuah persoalan rumit dalam kepalaku. Aku mencoba memencetnya, memilih nomor-nomor yang seoalah-olah kuingat dan menunggu beberapa saat suara di kejauhan sana. Tapi aku hanya mendengar suara hujan bercampur sesuatu mirip angin yang berdesis dan batuk-batuk tertahan Zubay. Aku mencoba memencet nomor-nomor itu lagi, nomor-nomor lainnya yang sebentar-sebentar hilang dari kepalaku. Sedikit ragu aku menoleh ke arah Zubay. Ia hanya menggelengkan kepala berkali-kali.

“Di mana buku telepon itu?” tanyaku

Zubay menggeleng sekali lagi. Saat itulah aku merasa, bahwa kami sudah cukup tua dan begitu ringkih. Pastinya akan lebih mudah dikalahkan oleh hujan dan angin di luar sana. Lalu aku menutup telepon itu seperti semula dan kembali ke sofa hanya untuk memeluk Zubay yang mulai menggigil. Badannya panas, bulir-bulir keringat dingin bertebaran di keningnya.

“Lebih baik kita ke dalam saja. Tidak sampai malam mereka akan datang. Percayalah.”

Zubay mengangguk. Tertatih aku memapah tubuhnya menuju sebuah kamar. Kamar tempat kami dulu selalu menidurkan ketiga anak kami dengan penuh kasih. Biasanya mereka akan lebih cepat pulas, terutama pada saat hujan seperti ini. ()

(Terbit di Harian Padang Ekspres, 13 November 2016)