Cerpen – Ibu Tak Berangkat

Oleh : Sanie B. Kuncoro

Penutur: Liston P Siregar

download

Kau sedang berada di pekarangan rumah Ibu. Sebuah tempat yang paling kau suka setiap kali kembali ke rumah itu. Entah sekadar singgah dari sebuah perjalanan tugas, atau saat kau bawa istri dan anak-anakmu mudik mengunjungi Ibu di kampung halaman.

Sebuah pekarangan yang senantiasa menghadirkan jejak masa kanak-kanakmu. Membelah kenangan menjadi penggalan-penggalan, yang setiap irisannya membawamu kembali menelusuri perjalanan masa silam, yang seakan terperangkap di pekarangan itu. Seakan tak ada yang benar-benar berubah di sana.

Lihatlah, pohon ketapang yang rantingnya bercabang menjalar ke empat arah itu, tetap tegak di sudut barat daya pekarangan. Helai-helai daunnya yang lebar, sebagian berwarna merah saga, adalah daun dengan merah yang sama, yang dulu sesekali menjatuhimu saat kau bermain gundu di keteduhan pohon itu.

Kau tak lagi bermain gundu sekarang, keahlian meluncurkan bola kaca kecil yang menghantam gundu lawan-lawanmu, telah menghilang darimu. Tak lagi luwes jemarimu mengarahkannya serupa peluru. Kini kau kembali berada di keteduhan pohon ketapang itu, sembari menikmati koran pagi dan secangkir teh hangatmu yang mulai mendingin.

Lalu kau dengar sesuatu.

Berapa ongkos naik haji sekarang?” Ibumu bertanya. Ringan nada katanya serupa pertanyaan yang diucapkan sambil lalu. Apalagi karena Ibu melakukannya sembari napeni. Menyingkirkan kulit gabah dan kerikil yang terbawa butiran beras.

Entahlah, barangkali sejumlah…..” kau sebutkan sejumlah angka perkiraan.

Benar sejumlah itu?” Ibumu mendadak antusias, dihentikannya gerak mengayun tampah.

Ibu ingin berangkat?” kau mendadak berdebar dengan pertanyaan itu. Pertanyaan yang membawamu pada suatu kalkulasi, perhitungan dan pertimbangan ini itu.

Tentu saja, siapa yang tidak?”

Ada cahaya samar-samar berkelip pada sirat mata Ibumu. Terlihat jelas olehmu harapan yang tersimpan di dalamnya. Seolah-olah kau melihat bayang keagungan Ka’bah, antara menjauh dan mendekat berganti-ganti. Panggilan doa bergema pada dinding-dinding liang dengarmu.

Kalau bagus hasil panen nanti, agaknya cukup untuk menggenapi saldo tabungan sejumlah ongkos itu. Insya Allah Ibumu ini akan berangkat.”

Ibumu bergumam halus. Kehalusan suara itu lebih mirip angin yang terdesir di antara batang-batang padi yang tumbuh di sebidang sawah warisan mendiang ayahmu. Dari kejauhan desiran itu berasal, namun menghampirimu hingga sedemikian dekat.

Insya Allah, Tuhan meridhoi niat mulia. Amin” ucapmu mengamini.

Desir angin dari kejauhan itu, mendesirkan hatimu, menyadarkanmu bahwa sejauh ini telah kau abaikan sesuatu. Yang satu itu luput dari perhatianmu, terlipat di antara pantauan pada kesehatan dan hal-hal material yang lebih tampak.

Kau simpan desiran itu, rapi terbungkus dalam ingatan, seumpama bekal yang kau bawa saat kau pamit pada Ibumu selepas tengah hari itu. Selembar daun ketapang warna saga melayang sesaat dan rebah di ujung kakimu ketika kau tinggalkan pekarangan rumah Ibu.

*

Kau rebahkan dirimu. Bilah-bilah cahaya matahari yang menembus partisi jendela, menampakkan partikel debu yang menari-nari dalam cahaya itu. Kau hela napas, tanpa hirau partikel lembut itu memasuki liang napasmu.

Ada apa?” istrimu bertanya. Agaknya kepekaannya menangkap sesuatu yang tak biasa pada tarikan napasmu yang berat itu.

Lagi napasmu terhela, sebelum kau jawab pertanyaan istrimu dengan pertanyaan yang berbeda.

Kapan batas waktu pembayaran tanah itu?”

Akhir bulan depan” istrimu menjawab dengan mata bertanya.

Seandainya kita tunda pembelian tanah itu, apakah kau keberatan?” tanyamu menerawang.

Teringat olehmu saat pertama kali menemukan sebidang tanah itu.

Dengan sepeda kau telusuri jalan desa itu, sebuah rute yang tak kau rencanakan. Saat itu kau hanya bosan dengan rute yang biasa kau lalui. Jarak tempuh dan situasi perjalanannya tidak lagi memberikan tantangan karena medan itu telah kau kuasai. Tak lagi terpicu sama sekali andrenalin di dalam dirimu saat menaklukan tanjakan-tanjakannya. Maka pagi itu kau arahkan sepedamu tanpa rancangan sebuah arah. Kau hanya mengayuh seakan membiarkan kemudi sepeda mencari arahnya sendiri. Berbelok acuh saat melalui persimpangan, menambah kecepatan di jalur lurus dan terengah saat melaui tanjakan. Dan kau temukan sebidang tanah di ujung itu atau sesungguhnya kau tersesat? Tanpa pertimbangan kau memilih sebuah jalan kampung, lambat roda sepedamu menggelinding menelusuri jalan tanah yang membelah ladang tembakau. Lalu kau terhenti, tak ada lagi jalan setapak setelah itu.

Baru saja kau memutar balik arah sepedamu ketika seseorang menghampirimu, menyangka bahwa kau tertarik dengan sebidang tanah yang akan dijualnya itu. Maka kau pun terperangkap untuk berbasa-basi.

Namun ternyata tanah berilalang itu mengikat hatimu.

Letaknya di ujung, dengan kontur yang agak menanjak, berseberangan dengan ladang tembakau. Luasnya 200 m, harganya bisa dinegosiasi” kau jelaskan dengan antusias pada istrimu. Antusiasme yang bernada bujukan.

Tabungan kita cukup untuk melunasinya.”

Tapi sesudah itu kita tak punya tabungan lagi” kata istrimu bimbang.

Tentu akan ada rezeki lagi. Bisnis tak berhenti, pastilah rezeki tersedia bagi para pencarinya” katamu sepenuh keyakinan, yang dengan segera menghentikan kebimbangan istrimu.

Tersimpan dalam ingatanmu, semburat yang meronai paras istrimu. Antara takjub dan angan yang melambung saat kalian meninjau tanah itu.

Apakah setuju bila menjadikannya sebagai rumah akhir pekan?” begitu istrimu berkata di antara gelembung-gelembung harapannya. “Kita bagi lahan ini menjadi dua. Seratus meter untuk koleksi tanamanmu, selebihnya untuk ruang baca dan buku-buku?”

Pembagian yang adil. Tentu kau setuju. Dan bertemulah kalian dengan pemilik lahan untuk bernegosiasi.

Dan di sinilah kau sekarang, menawarkan alternatif bagi istrimu untuk membatalkan pengambil-alihan lahan itu, justru setelah negosiasi harga dengan pemiliknya berhasil tersepakati.

Mengapa?” kau dengar lirih suara istrimu.

Kau berpaling, tak hendak menatap mata istrimu. Ah, tepatnya tak sanggup. Karena kau tahu akan mendapati luruhnya angan yang telah melangit. Angan yang kau lambungkan, dan kini kau hempaskan pula.

Ibu ingin naik haji, kupikir itu sebuah keinginan yang layak diprioritaskan” nada katamu hati-hati. Kehati-hatian yang kau lakukan demi supaya tidak mengesankan bahwa kau lebih mengutamakan seorang daripada yang lain apalagi mengesampingkan yang satu dari lainnya.

Kalau demi ibadah itu, tentu aku setuju” seru istrimu.

Dan kau terkejut mendapati tiadanya sirat kekecewaan pada suara itu. Bahkan suara itu lebih serupa seruan yang menyatakan kelegaan.

Ibadah perjalanan menuju rumah Allah tentulah lebih utama dari rumah manapun. Apalagi ibadah seorang Ibu. Rumah akhir pekan kita tentu bisa menunggu.”

Sungguh?” kau bertanya meyakinkan.

Istrimu mengangguk. “Seperti yang kau katakan, bahwa rejeki akan tersedia bagi para pencarinya. Pastilah Allah tak alpa menyediakan rejeki bagi mereka yang ikhlas demi bakti pada ibunya. Bukankah begitu?”

Seketika keharuan itu mendatangimu, menghangatkan hati. Dan kau temukan bahwa angan yang melangit itu tak luruh dari paras istrimu. Gurat wajahnya tetap menampakkan harapan yang terpeta jelas, yang seakan memberimu jalan untuk mencapainya.

*

Pagi menjelang siang saat telepon ini mengejutkanmu.

Ibu tak berangkat” kau dengar Ibumu berkata. Tak begitu bagus sambungan telepon itu, sehingga seakan-akan suara itu terdengar dari kejauhan, nyaris sayup, namun tertangkap olehmu getar yang menyertainya.

Mengapa, Ibu? Apakah terjadi sesuatu?” tak mampu kau tutupi rasa terkejut terpadu khawatir dalam dirimu.

Ada peraturan baru yang tak mengijinkan calon haji perempuan berusia 65 tahun untuk berangkat,” melirih suara Ibu “Akhir tahun lalu usia Ibumu ini sudah menjelang 70.”

Sesuatu menikam hulu jantungmu.

Kau tercekat. Lirih suara itu, kau tahu bukan karena suara itu berasal dari kejauhan sekian ribu kilometer darimu berada, melainkan karena luruhnya harapan yang tersimpan di dalam diri Ibumu.

Lirih suara itu mendekatkanmu pada suatu bayang-bayang, seolah dirimu berdiri di hadapan sebuah dinding berbata merah. Kau aduk pasir dan semen untuk melapisi batu itu. Kau lakukan dengan rapi, polesanmu halus merata hingga dinding itu tertutup sempurna, ujung-ujungnya membentuk siku 90 derajat. Namun tepat saat kau sapukan kayu penghalus sebagai penghalusan akhir, saat itulah curah hujan mengguyur deras. Luruh seketika adonan pasir dan semen yang belum sempat mengeras. Seakan dinding itu mencair, lapisan yang meluruh menampakkan kembali susunan bata yang seharusnya diselimutinya, dan lapisan itu menggenang bersama curah hujan serupa lumpur.

Demikianlah harapan itu luruh. Tidak hanya di dalam diri Ibumu, melainkan di dalam dirimu juga.

Regulasi peraturan haji. Pemerintah Arab Saudi telah menetapkan untuk tidak menerima calon haji perempuan yang telah berusia 65 tahun. Begitulah ketika negara mengambil alih hak seseorang untuk beribadah dan menjadikan prosesi ibadah sebagai monopoli sebuah negara.

Ibu, maaf….” tak selesai kalimatmu yang terucap dengan bergetar itu. Sedemikian sesak dadamu, terhimpit beban penyesalan yang menghampirimu seketika.

Tidak apa-apa. Kalau belum ada ridho Allah untuk niat ibadah Ibu kali ini, barangkali karena Allah memiliki rencana lain. Ibu ikhlas.”

Kalimat itu menghangatkan hatimu sekaligus meneguhkan keberadaan Ibu yang serupa tiang bagimu. Penyesalan itu membebanimu, dan tiang keikhlasan Ibu menjadi sandaranmu.

Namun tak tercegah ketika ingatan tentang tahun-tahun yang telah berlalu mendatangimu. Tahun-tahun berisi kesempatan-kesempatan yang telah kau lewatkan tanpa usaha yang cukup berarti untuk memberangkatkan Ibu dalam perjalanan ibadah mengunjungi rumah Allah.

Tahun-tahun yang tak akan pernah kembali.

Setengah hati terhela napasmu. Tak tahu hendak ke mana akan kau letakkan kesedihan dan penyesalan yang membebanimu.

Lalu kau ingat film itu.

Pada sebuah film Korea, seorang serdadu menemukan dirinya menjadi bagian dari pemerintah Jepang yang justru sedang menjajah negaranya. Saat menelusuri sejarah masa lalunya, serdadu itu mendapati bahwa di masa lalu dirinya gagal menunaikan tugas negara sehingga bangsanya di masa kini tetap berada dalam kekuasaan penjajah. Dalam penyesalan itu mendadak terjadi keajaiban fenomena alam yang memungkinkan serdadu itu kembali pada sebuah masa silam. Itu adalah masa lalu tepat saat dia melaksanakan tugas negara yang gagal itu. Maka diraihnya kesempatan kedua itu, diperbaikinya kesalahan diri hingga kegagalan itu tak terulang. Akhirnya serdadu itu berhasil menunaikan tugasnya dan negaranya di masa kini adalah negara yang merdeka. Di kemudian masa, anak-anak bangsa itu mengenang serdadu itu sebagai seorang pahlawan yang gugur demi kemerdekaan negaranya. Gambar dirinya terpajang di museum dan kisahnya menjadi tauladan kepahlawanan yang dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Itu film. Di kehidupan nyata akankah kau temukan terulangnya sebuah peluang untuk menebus kealpaan masa lalu? Akankah kesempatan yang terlewat itu kembali, hingga kau bisa memberangkatkan Ibumu menunaikan perjalanan ibadah mengunjungi rumah Allah sebelum usia 65 tahun?

Pohon ketapang yang tegak berdiri di barat daya pekarangan rumah Ibu, seakan memerangkap seluruh masa silammu. Tahun berlalu sementara, gugur daun merah saganya silih berganti dengan tunas daun baru hingga kini.

Apakah salah satu kesempatan itu juga sekadar terperangkap, dan akan kembali mendatangimu pada suatu ketika nanti? Wallahualam.

 

***

 

Dongeng – Raksasa Sampah di Kerajaan Lolontar

Dongeng: Riyana Rizki

Penutur: Riyana Rizki

Ilistrasi Musik: Ketto (Radi Mosintuwu)

download

 

Hari itu Raja Lolontar bangun dengan hati yang bahagia. Ia membuka kaca jendela. Matahari pagi baru saja muncul. Cahayanya yang hangat membuat Ratu Lolontar semakin bersemangat. Hari ini adalah hari libur Ratu Lolontar. Pada hari-hari biasanya, Ratu Lolontar sangat sibuk mengurusi kerajaan. Jadi, ketika hari liburnya datang, ia akan berjalan-jalan keluar istana.

Dengan berjalan-jalan keluar istana, Ratu Lolontar bisa melihat-lihat keadaan rakyatnya. Ah betapa senang hati Ratu Lolontar hari ini. Tapi, yang paling membuatnya senang adalah ia bisa melakukan semuanya itu sambil berolahraga. 

Mengapa? Karena Ratu Lolontar tidak menggunakan kereta kuda, tetapi berjalan kaki. Ratu Lolontar adalah Ratu yang sangat memperhatikan kesehatan dan kebersihan. Meski sangat sibuk mengurusi kerajaan, Ratu Lolontar selalu menyempatkan diri berolah raga di dalam istana.

Selain itu, Ratu Lolontar menerapkan peraturan tentang kebersihan. Ia melarang orang-orang di istana untuk membuang sampah sembarangan. Ratu Lolontar menaruh tempat sampah di seluruh area istana. Dan karena orang-orang di dalam istana sangat menyukai kebersihan maka tidak ada sampah sama sekali di istana.

Kembali ke Ratu Lolontar yang baru bangun ya. Nah, Ratu Lolontar segera bersiap-siap. Ia memakai pakaian yang santai agar bisa berjalan dengan leluasa. Setelah siap, Ratu Lolontar segera mengajak perdana menteri untuk menemaninya. 

Tapi…..

Ratu Lolontar yang tadinya sangat bahagia tiba-tiba marah besar.

“Apa ini?! Apa ini?! Apa ini?!” kata Ratu Lolontar begitu di desa. 

Ratu Lolontar marah karena sampah yang tidak dibuang pada tempatnya. Tidak hanya sampah daun dan sayur busuk yang berserakan, tetapi sampah plastik. Sampah-sampah itu bercampur dan menumpuk di sudut-sudut desa. Bahkan di gunungan-gunungan sampah itu ada banyak lalat.

Perdana Menteri meminta rakyat Kerajaan Lolontar berkumpul. Setelah mereka berkumpul Ratu Lolontar langsung bertanya, “Kenapa sampah-sampah itu masih saja dibuang sembarangan?”

Orang-orang di Kerajaan Lolontar memiliki kebiasaan buruk. Mereka suka sekali membuang sampah secara sembarangan, terutama ke sungai kerajaan. Padahal Ratu Lolontar telah memberikan perintah untuk membuang sampah di tempatnya. Ratu bahkan menyediakan tempat-tempat sampah di pinggir jalan, di taman, dan tempat-tempat umum. Tapi dasar rakyat di Kerajaan Lolontar sangat tidak peduli pada kebersihan.

karena sampah sangat buruk bagi manusia, Ratu Lolontar memerintahkan rakyatnya untuk membersihkan sampah-sampah itu. Rakyat pun bergotong-royong. Ratu Lolontar dan Perdana Menteri juga ikut membantu dan kembali ke istana setelah semua sampah dibersihkan.

 

Keesokan hari Ratu Lolontar bersantai di balkon setelah menyelesaikan seluruh urusan kerajaan. Tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Tidak berlangsung lama Ratu Lolontar melihat rakyatnya berlari di tengah hujan. Mereka berlari  menuju gerbang istana. Betapa kaget Ratu Lolontar melihat ada makhluk besar yang mengejar mereka dari belakang. Besaarrrrr sekali!

Makhluk yang mengejar rakyatnya itu mirip sekali dengan Raksasa yang pernah diceritakan neneknya. Nenek menyebutnya dengan Raksasa Sampah. Tubuhnya terbuat dari sampah yang dibuang secara sembarangan. Begitu hujan tiba, sampah-sampah itu akan menyatu kemudian dibungkus oleh air. Kata neneknya, Raksasa Sampah suka memangsa manusia. Manusia yang dimangsa oleh Raksasa Sampah akan hidup di dalam perutnya yang penuh sampah. Sebenarnya Raksasa Sampah bukan makhluk baru di Kerajaan Lolontar. Dulu sekali, nenek dari Ratu Lolontar telah menyegel Raksasa Sampah. Itulah mengapa neneknya mewasiatkan agar tidak membuang sampah sembarangan agar Raksasa Sampah tidak bangkit lagi. Pasti karena banyaknya sampah ditambah hujan yang sangat lebat telah membangkitkan Raksasa Sampah. Ini semua pasti karena rakyat Lolontar membuang sampah sembarangan. Tapi….ah sudah terlanjur.

Ratu Lolontar tidak ingin rakyatnya habis dimakan Raksasa Sampah itu. Bergegas Ratu Lolontar segera memerintahkan pengawal istana untuk membuka gerbang. Sementara itu, ia pergi ke ruang penyimpanan benda pusaka. Di ruang itu, neneknya telah mewariskan sebilah pedang yang bisa menyegel Raksasa Sampah itu.

Gerbang dibuka. Orang-orang mulai masuk. Dan dengan berani Ratu Lolontar berlari keluar sembari membawa pedang pusaka. Dengan sekali tebas, Raksasa Sampah terbelah. Seperti ada kepulan asap hitam pekat keluar dari tubuh Raksasa Sampah. Kepulan asap hitam pekat itu kemudian menghilang di udara. Air tumpah dari tubuhnya. Sementara sampah-sampah terbang ke langit dan turun lagi seperti hujan.

“Inilah akibatnya kalau kalian membuang sampah sembarangan.” Kata Ratu Lolontar.

“Maafkan kami Ratu. Maafkan kami.”

Hari itu, rakyat Lolontar berjanji tidak akan membuang sampah sembarangan. Mereka akan menjaga lingkungan tempat tinggal mereka dari sampah agar musim penghujan nanti Raksasa Sampah tidak bangkit lagi.

 

Yogyakarta, 25 April 2019

Cerita Anak – Komodo Wants to Play Music

Author: Felicia Gerda Nayoan Siregar 

Illustrator: Astrid Sevrina van Eenbergen

Narrator: Ilona Joline Surjoraharjo  

Music: Liston P. Siregar

download

 

 It is a peace and quietfull afternoon in the small village out of the forest, where Antar lives. He has just finished collecting fruits from the forest in the morning, had a sower, and is was making tea torelax. 

Antar doesn’t have any plan and all of his friends are busy with their ownthing: some are fishing in the river while other playing kite in the field. He is a bit tired from collecting fruit in the forest and just want to sit with his tea and listening to the music.

Suddendy.

Antar opens the door and is surprised to see Pirok, a little orang-utan, with his friend Komodo.“Antar, this is my friend, Komodo. He wants to learn how to play music. Please could you help him?” “Yes” said Antar. “Let’s try.” They all walk to the music room behind the main house.

Antar took a bamboo flute and blow it.

Antar ask Komodo: “Can you blow this bamboo flute?” No. Komodo can’t blow the bamboo flute, his snout is too big.“Let’s see if you can play sasando?” 

Oh no, Komodo can’t play it either. His claws are too sharp! He can’t play the sasando because his claws are too sharp. Hmmm… Antar is not give up, “How about playing angklung?” 

Komodo stands up, and starts to play the angklung. He likes the sound of this beautiful bamboo instrument. But, Oh no once he is about to really enjoy the angklung, Komodo can’t stand for very long. His body is too heavy to stand on his back feet. He falls on his back. Komodo can’t play angklung.

Komodo is very sad and he starts to cry. He feels he won’t be able to play any music at all. His snout is too big. His claws are too sharp. His body is too heavy. Poor Komodo.

Komodo’s tail had accidentally hit a gong. 

Antar was surprised and shouted happily: “Komodo. Listen you played the gong! You CAN play music!”“You can play gamelan with us!” Pirok plays gender

Antar plays gendang

And Komodo plays the gong.

Komodo is very happy that he can play music now. Komodo invites Antar and Pirok to perform gamelan at Komodo Island where he lives. All the other komodos really enjoy the gamelan concert.

It was a very lovely time for Komodo and all his friends, knowing they can also play music nicely like Pirok and Antar. At the end of the concert, Komodo and all his friend want Pirok and Antar to stay longer but they couldn’t and must go home before it is very dark to cross the sea. “Thank you for the music”

The end

***

Cerita Anak – Rococo dan Riri Semut

download

Cerita Anak: Rena Asyari

Versi Cetak: Antologi Cerita Anak Petualangan Rococo

Penutur: Nanik Indarti

 

 

Di suatu pagi yang indah, Rococo asyik membaca. Rococo suka membaca sedari kecil, membaca membuatnya mempunyai banyak pengetahuan. Rococo tak sadar tiba-tiba sekawanan semut merah menghampiri dirinya. Semut-semut itu dipimpin oleh Riri. Riri semut merah yang tangkas, Riri menggiring pasukannya untuk mengendap-ngendap masuk di rumah Rococo. 

 

*** 

Di rumah Rococo banyak sekali makanan, remah roti, remah nasi, buah-buahan. Sebagian tercecer. Setiap hari Riri dan pasukannya membawa makanan ke istana semutnya. Tiba-tiba Rococo seperti melihat sesuatu dari balik bukunya. “Ya ampun… banyak sekali semut. Aku takut” 

Riri sang komandan semut mendengar jerit Rococo. “Hei Rococo, jangan takut sama kami, kami tidak akan mengganggumu, kecuali kakimu menginjak kami. Maka kami akan menggigitmu. Apakah aku dan pasukanku boleh mengambil sisa makanan yang ada di rumahmu Rococo?” Rococo kaget sekali, ini pertama kalinya dia bertemu sepasukan semut. 

Sambil gemetar Rococo berkata “boleh… ambil semampu yang kalian bisa bawa. Hmmm… bolehkah aku ikut ke istana semut Riri?” 

Baiklah Rococo kami akan menggotong badanmu, “ayo pasukannnnn semut bersiap kita angkat tubuh Rococo,” ujar Riri lantang. 

 

*** 

Rococo terlihat bingung tetapi dia senang sekali, ternyata semut-semut itu jumlahnya jutaan, mereka semua mengangkat tubuh Rococo. Riri memberi aba-aba. Kiri, kanan, kiri, kanan, belok kanan, belok kiri,  awas hindari meja, lihat di depan ada lemari, hati-hati menabrak pintu, begitu teriak Riri. Pasukan semut berjalan, suara sepatunya terdengar serempak, tuk…tuk…tuk… *** 

 

Rococo tertawa geli, tubuhnya melayang. Setelah berjalan begitu lama, Rococo tiba di depan istana semut. Rococo mengingat sesuatu dan memperhatikan keadaan sekeliling, ternyata istana semut tepat berada di bawah kamar Rococo. 

Riri menyuruh pasukannya untuk membawa Rococo ke dalam istana. Benar-benar megah istana semut ini ujar Rococo dalam hati. Banyak sekali makanan, kursi, lemari, buku-buku. Rococo baru tahu ternyata kaum semut gemar membaca.  

*** 

Rococo berjalan-jalan di perpustakaan semut, bukunya kecil-kecil sekali. Rococo tidak bisa membacanya. Rococo kemudian bertemu dengan Zorro. Zorro berkacamata. Rococo mencoba kacamata Zorro yang ternyata hanya muat di hidungnya. Rococo dan Zorro tertawa terbahak. 

Zorro adalah semut kutubuku sekaligus penjaga perpustakaan. Zorro bercerita jumlah buku di perpustakan adalah seratusribu, berisi kitab semut, kitab manusia, kitab binatang lainnya, kitab masakan semut, dunia bawah tanah juga beragam macam pengetahuan. Zorro dengan bangga bilang bahwa perpustakaannya tak pernah sepi, bahkan seringkali semut-semut mengantri untuk membaca. Zorro membawa satu buku dari rak, dia menceritakannya pada Rococo. Ketika Zorro sedang mendongeng kisah pangeran semut yang berhasil mengalahkan pasukan Belalang, Rococo malah tertidur.  

Beberapa jam kemudian, Rococo terbangun. Zorro tersenyum melihat wajah Rococo yang merah karena malu. Rococo meminta maaf, Zorro yang baik hati pun memaafkannya. 

***   

Rococo berjalan-jalan kembali di Istana semut. Rococo bertemu dengan raja dan ratu semut. Mereka adalah orang tua Riri. Raja semut sangat dicintai oleh warganya, ratu semut pun sangat cantik. Rococo sangat takjub dengan istana semut. 

“Rococo silahkan menikmati hidangan. Ada banyak makanan di sini, buah-buahan segar, roti gandum, susu yang melimpah, sayuran segar, ikan dan daging juga ada. Beginilah kehidupan kami di sini, saling bergotong royong dan membantu sesama. Tak ada satu semut pun yang kelaparan, kami semua harus berbagi,” ujar Ratu. Rococo mendengar penjelasan Ratu semut dengan seksama. Rococo malu, dia suka berebut mainan dan makanan dengan adiknya.  

“Eeenngg… tidak Ratu, itukan sisa-sisa makanan yang ada di rumahku,” sahut Rococo.  

“Maaf ya kami selalu mengambil sisa-sisa makanan yang ada di sampah juga makanan yang tercecer di rumahmu, makanya Rococo kalau makan harus dihabiskan, jangan tersisa nanti pasukan kami akan mengotori rumahmu”, ujar Ratu sambil matanya mengerling.

 

Rococo bermain hingga puas di istana semut. Tak terasa hari sudah larut, Rococo harus segera pulang. Rococo pun pamit kepada seluruh semut, Zorro, Riri, Raja dan Ratu. Rococo berjanji akan bermain kembali. 

 

Riri mengantar Rococo hingga pintu gerbang Istana. Rococo tiba di rumah dengan perasaan lega, dia langsung menghampiri adiknya yang sedang belajar. Rococo memeluk adiknya dan meminta maaf jika selama ini sering berebut mainan. Di dalam hati Rococo berterima kasih berulang kali kepada Riri semut yang mengajarkan tolong-menolong, dan Rococo berjanji tidak akan membuang-buang makanan. 

 

***END***

>