Aku dan Purnama

Spread the love

Penulis : Astuti Parengkuh

Pemenang Harapan Sayembara menulis Cerpen. Universitas Negeri Makassar

Penutur : Astuti Parengkuh
Ilustrasi Musik Endah Fitriana


DOWNLOAD

 

Sesekali aku sengaja naik ke lantai dua  saat hujan turun. Lalu di teras loteng yang tak beratap itu, kutengadahkan wajah dan  tanganku ke atas untuk menyamarkan buliran air mata yang menyatu dengan air mata langit. Di tengah isak yang tak akan terdengar oleh seisi rumah, diam-diam hatiku sesak. Beberapa jenak aku akan menipu diri seolah-olah tegar dengan keadaan sebelum masuk ke rumah kembali dalam keadaan basah kuyup. Kukatakan kepada ibu jika aku rindu bermain hujan-hujanan seperti masa kecil. Ibu tak tahu jika aku merindukan seseorang nun jauh di sana; Kang Ama.

Beberapa kalimat yang kurangkai menjadi barisan kata-kata yang kini usang masih tertulis pada diary biru laut. Kubiarkan diriku bercengkerama dengan kenangan. Seperti hendak menyelam di kedalaman laut, aku tak ingin tenggelam dan kehabisan oksigen sebelum benar-benar henti napas.

kenangan tentang Kang Ama tiba-tiba melintas begitu saja beberapa puluh menit lalu. Aku ingin menziarahinya dengan menangis sejadi-jadinya, namun di suasana rumah masih ramai, mana mungkin itu kulakukan. Ketika hujan turun deras, kuanggap ada malaikat yang mendengar doa keinginanku. Maka mengeluarkan tangisan dalam derai hujan adalah menyembunyikan rindu yang tersamarkan.

Pagi ini aku akan menemui Kang Ama seperti janjiku kepadanya menjemput di stasiun Lempuyangan. Dia laki-laki yang kukenal beberapa tahun lalu saat menjadi mahasiswa di sebuah universitas. Kang Ama indekos di dekat rumah. Setiap pagi Kang Ama selalu menyempatkan diri sarapan di warung kepunyaan keluargaku. Kang Ama menyambi menjadi karyawan di sebuah toko komputer dan selalu mengambil shift sore. Kadang malam hari. Dia sering pulang pagi dan langsung menuju warung ibu.

Kang Ama menumpang kereta api Lodaya. Azan subuh baru saja terdengar, sementara para penumpang keluar dari gerbong seperti deretan semut yang menyembul dari lubang tanah.  Kulihat Kang Ama berjalan ke arah pintu keluar seperti orang-orang yang segerbong dengannya.

“Kang Ama?” sapaku sambil aku sentuhkan punggung tanganku ke punggung tangannya.

“Hai, Wid. Udah lama menunggu aku?”jawabnya kemudian sambil menggamit lenganku.

Kang Ama, kalau saja beberapa hari lalu aku tak memperoleh nomor teleponnya, mungkin aku tidak dapat menghubungi.Rupanya ibu masih menyimpan nomor telepon rumah keluarga Kang Ama. Dan sejak beberapa hari lalu setiap pagi, Kang Ama tak lupa menelepon ibu dan aku. Tepat di waktu-waktu dulu dia suka mampir ke warung untuk makan. Namun sekarang ibu sudah beranjak tua, warung makan sudah dijaga para pembantu. Ibu hanya menyiapkan bumbu-bumbu saja.

“Kita ngopi sebentar, Kang Ama? Hari masih sangat pagi,” usulku.

“Maaf, aku ke musala dulu,” jawab Kang Ama sambil mengeluarkan stik yang sudah dilipatnya di dalam tas. Dia berjalan sekira 10 meter hingga sampai ke musala stasiun.

“Wid, bagaimana keadaan kota Yogya sekarang?” Kang Ama mulai ingin tahu dengan kota yang pernah ditinggalkannya belasan tahun lalu.

“Yogya makin cantik, Kang. Seperti aku yang senantiasa berdandan,” candaku yang dibalasnya dengan tertawa ngakak,khas Kang Ama.

“Iya, iya percaya kalau kamu gadis paling cantik sekampung Prayan. Bukankah dulu aku pernah mengatakannya kepadamu?” Kang Ama masih ingat.

“Kamu sudah semester berapa sekarang?”tanya Kang Ama sambil menyeruput kopi hitam yang asapnya mengepul dan mengeluarkan bau khas campuran jagung.

“Aku baru menulis skripsi, Kang. Aku udah semester tua,” jawabku sambil terkekeh.

“Wah ternyata lama juga ya aku meninggalkan kota Yogyakarta,”

“Benar, Kang Ama. Saat Kang Ama lulus fakultas teknik, Widya masih duduk di bangku kelas 6 SD,” jawabku.

“Dan kau selama ini hanya tinggal di Jogja saja? Kalau aku sudah melalangbuana hahaha…”Kang Ama tertawa sambil memperlihatkan sederetan giginya yang tampak rapi.

Setelah selesai minum kopi di kedai dekat stasiun, lalu aku mengajak Kang Ama beranjak. Kusentuh lagi tangannya dengan punggung telapak tanganku.

“Ayo, Kang, kita jalan,” kataku.Beberapa detik kemudian Kang Ama menggandengku.

“Kamu sudah prigel menemani seseorang sepertiku. Kamu sangat cekatan dan sabar ya,”kata Kang Ama.

“Oh, itu karena aku juga akrab di komunitas yang didalamnya aku bertemu dengan teman-teman seperti Kang Ama,”kataku.

“Kamu kerja di panti?”

“Semacam itulah.”

Sejurus kemudian, ingatanku kembali ke masa 15 tahun yang silam.

***

 

15 Tahun Lalu

 

Pagi hari Kang Ama datang ke warung kami untuk sarapan. Dia seperti tergesa-gesa karena hendak mengikuti unjuk rasa mahasiswa menuntut reformasi yang beberapa hari ini terjadi di kampus. Kang Ama juga memesan 50 nasi bungkus pada ibu sehari sebelumnya. Setelah nasi yang dipesannya sudah pasti jadi di saat siang waktu jam makan, Kang Ama langsung pamit.

“Kemarin ada yang terluka, Purnama.Jadi berhati-hatilah,”kata Ibu menyampaikan pesan kepada Kang Ama.

Ibu lebih suka memanggil Kang Ama dengan panggilan nama sebenarnya. Tidak seperti teman-teman Kang Ama atau anak-anak kecil yang tinggal di dekat kos.

“Baik, Ibu. Lho, Nduk, kenapa kamu nggak bersekolah?Mbolos ya?” tanya Kang Ama kepadaku.

“Hari genting seperti ini, siapa sih yang tega membiarkan anaknya masuk sekolah. Apalagi komplek sekolah Widya dekat kampus. Bagaimanapun Ibu takut, Purnama,”jawab ibu mewakiliku.

“Coba Kang Ama antar kamu, Wid.Mau?” Kang Ama memprihatinkanku. Wajahnya berubah cerah bercampur lucu saat ajakannya kutolak.

Widya itu sudah gede, Purnama. Dia sudah punya rasa malu memboceng kamu,” lagi-lagi ibu mewakiliku menjawab pertanyaan Kang Ama.

Pada siang hari suasana kota Yogya kudengar memanas. Rakyat Yogya menghendaki Ngarso Dalem menentukan sikap. Ribuan orang memadati alun-alun, menggelar ritual ‘tapa pepe’. Bukan hanya di Yogya, di sejumlah kota besar selain Jakarta ribuan mahasiswa merangsek bergerak. Kota Solo yang berjarak sekira 60km dari Yogya pun mulai membara di beberapa tempat.

Siang hari setelah usai shalat Dhuhur, utusan Kang Ama datang mengambil pesanan nasi bungkus. Dia teman di satu komunitas mahasiswa. Ibu yang suka ramah terhadap para mahasiswa yang sering makan di warung menanyakan keadaan kampus siang itu.

“Masih terkendali, Budhe,”jawab teman Kang Ama.

“Semoga zaman lekas tentrem, ayem, kartaraharja,” kata ibulagi.

“Amin, Budhe,”jawab teman Kang Ama sambil melirik ke arahku.

“Oh, kamu ya, Nduk yang bernama Widya, putri Bu Zaenab pemilik warung Burjo,”teman Kang Ama mulai menyebut-nyebut namaku.

“Emang kenapa, Mas?”tanyaku sambil kukulum senyum.

Dengan logat Surabaya yang sangat kental, teman Kang Ama yang akhirnya kuketahui bernama Rosihan itu hanya meninggalkan senyum dan sebungkus permen lolipop.

Sore hari, tak ada kabar yang aku dengar tentang Kang Ama. Namun seperti mendengar kilatan halilintar di siang bolong, pagi-pagi sekali beberapa teman Kang Ama mengabarkan jika mahasiswa semester akhir itu tengah dirawat di rumah sakit. Mata Kang Ama terkena lemparan  para demonstran. Entah mana berita yang benar, karena ada yang mengabarkan jika pelaku pelemparan itu oknum polisi.

“Widya ikut menjenguk ya, Bu,”kataku merajuk saat ibu memberitahukan akan menengok Kang Ama yang sudah berpindah dan sekarang tengah dirawat di rumah sakit Dr.Yap.

“Boleh. Nanti kita sama-sama dengan keluarganya yang baru datang dari Bandung,” jawab ibu.

Sore itu aku melihat Kang Ama dikelilingi oleh teman-teman kuliahnya serta beberapa keluarga dengan keadaan mata berbalut perban.

Kudengar bisik-bisik jika Kang Ama tak lagi bisa melihat. Kedua matanya sudah tak berfungsi. Dokter akan mengambil tindakan operasi pencakokkan mata jika ada pendonor.

“Ada Widya ya. Apa kabarmu, Nduk? Kamu masih membolos ya?” Kang Ama menanyakan sekolahku.

“Aku mau sekolah besok, tapi harus Kang Ama yang mengantar,”

“Ah, kamu ini ada-ada saja,”

“Benar. Jika Kang Ama bisa mengantarku,aku mau sekolah,”

“Owalah, Nduuuuuk….”

Seketika orang-orang yang berada di ruang tertawa terpingkal-pingkal. Kang Ama sejenak lupa akan keadaan dirinya.

***

Bulan purnama sepenuh di atas langit Yogya meluruh. Aku dan Kang Ama duduk di teras depan rumah bermandikan cahaya bintang-gemintang. Sejak kedatangannya pagi tadi, Kang Ama banyak bercerita bahwa setelah lulus kuliah S1 dulu, dia lantas mengambil beasiswa S2 di London.Tak serta merta langsung berangkat, karena dia mesti mengakrabi huruf Braille yang tentu sangat asing baginya.

Kang Ama juga bercerita jika dirinya belum berkeluarga. Kepadatan aktivitasnya di beberapa organisasi masyarakat seperti melalaikan dari setengah kewajiban yang diembannya; menikah.

“Widya sudah punya pacar?” tanya Kang Ama.

“Sama dengan Kang Ama, aku lebih asyik bekerja di panti daripada berpacaran. Jadi begini deh, ngejomblo!”jawabku lalu dibalas tertawa ngakak khas Kang Ama.

Tuhan, aku tak berharap banyak tentang impian. Namun setidaknya tangisanku di setiap datangnya hujan deras,disertai doa-doaku pada sosok laki-laki yang telah kuanggap sebagai pahlawan ini mampu mengalihkan perhatianku dari apa pun.

“Malam ini nggak bakalan turun hujan ‘kan?”tanya Kang Ama.

“Bulan purnama tengah memikat langit, Kang. Seperti dirimu yang telah mencuri hatiku.”

Kuhentikan napas.Kuraba detak jantungku yang cukup keras. Aku diam membeku. Kang Ama pun demikian.

Malam semakin larut dan kami hanyut dalam kebisuan. Tiba-tiba Ibu memanggil kami.

“Widya! Purnama! Sudah larut malam.Ayo kalian masuk kamar masing-masing.”

Malam ini, akan aku tulis dalam diary sebuah kisah tentang aku dan Purnama.*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *