Dari Wanita Bonsai Kepada Anda

Spread the love

Cerpen Willy Wonga
Narator Astuti Parengkuh
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

 
DOWNLOAD

Maka ketika dada yang bergemuruh itu pecah, seorang wanita dengan mimpi menjadi beringin besar telah memutuskan, dengan bisu untuk bergabung kembali dengan sebentuk bonsai yang teronggok di atas meja kaca.

“Baiklah, ini sudah seribu tahun. Aku tidak bisa menemukannya lagi.” Katanya sekali saja sebelum bonsai menelan jiwanya.

Sementara itu seorang lelaki yang tahu banyak hal tentang si wanita duduk di sampingnya, memegang sebuah buku bersampul merah yang nantinya hanya akan pernah dibaca oleh beberapa orang saja di dunia ini.  Juga selingkar jam tangan elektrik dengan rantai metalik yang memantulkan cahaya matahari, bulan dan bintang-gemintang. Ketika jam itu berdetak, waktu pun berjalan mundur.

Lelaki itu tahu seluruh kisah hidup wanita itu dengan lengkap, hampir sempurna. Di kepalanya, wanita itu telah sangat menderita hingga lupa bagaimana menyambut hidup seolah-olah setiap hari adalah satu hari yang sama; warna yang sama, bau yang sama, rasa yang sama, kebosanan yang makin pekat.

Kecantikannya berupa seribu hari ingatannya yang hilang. Gurat tajam di sudut matanya adalah bentuk dari semangat yang surut. Bicaranya yang tidak banyak merupakan bagian dari kesepian seseorang yang daripadanya impian tentang surga dihapus satu persatu. Dan di hari ketika dia berubah lagi menjadi bonsai, maka dunianya menjadi tidak lebih daripada setapak tangan. Meja antik, pot manis, bagaimanapun tidak sepadan dengan apa yang direnggut daripadanya.

Dan tuan, Andalah kekasihnya!

Wanita itu telah menulis surat kepada anda namun tidak ada alamat untuk dituju. Surat-suratnya kemudian menumpuk, memerah lalu menjadi semacam kitab. Jadi kepada andalah kitab ini akan disampaikan. Dan jangan lupa jam tangan itu, yang ketika jam itu berdetak waktu pun berjalan mundur.

*****

Anda dan wanita itu sudah ditakdirkan untuk hidup abadi sejak hari pertama. Bayangkan kisah cinta yang abadi, dijalankan oleh dua orang yang hidup abadi, di dunia yang sepertinya akan abadi pula.

Bila suatu hari lelaki itu pergi ke padang rumput dia akan bertemu seorang gadis pemerah susu yang jelita. Jika cinta bisa dimulai dari senyuman pertama, maka demikianlah kejadiannya. Begitulah, anda adalah lelaki itu dan si wanita bonsai adalah gadis pemerah susu.

Kalian kemudian menikah dan tinggal di beberapa kota yang jauh dari tanah kelahiran. Kalian lalu beranak lalu bercucu. Abad demi abad pun berlalu.

Di hari baik dan hari buruk, wanita itu pergi ke toko swalayan dengan tas kecil mungil tersampir di bahu kanannya, membeli segala macam rerempah serta daging terbaik untuk makan malam kalian. Wanita telah menggunakan parfum-parfum berwangi lembut, mengenakan gaun-gaun anggun pada upacara-upacara istimewa, membaca banyak buku hampir seratus eksemplar yang ditulis oleh penulis dari masa ke masa serta menonton film-film percintaan terbaik yang pernah diciptakan. Dia melewatkan waktu malam di kedai kopi, dan bila bulan sedang tumbuh dia pergi ke pantai menyaksikan anak penyu. Dia menyukai musik klasik sebagaimana dia menyukai jus segar pada siang musim kemarau. Dia memasak dan menyisir rambut dengan sama piawai layaknya istri dalam kisah dongeng yang melenakan. Sesekali, di tengah malam saat terbangun karena sebuah mimpi, wanita itu akan mengajakmu bercinta.

Namun ada hari yang tampak lebih buruk dari hari lainnya, ibaratnya susunan tangga, maka hari itu adalah dua atau tiga tangga yang hilang sekaligus yang membuatmu terperangah dan sesak napas dan lantas berpikir apakah semua akan berakhir di hari itu. Hari itu Anda merasa tidak menginginkan wanita itu lagi. Itulah yang terjadi pada suatu hari di tahun seribu sembilan ratus delapan puluh satu; setelah hampir tujuh ratus dua puluh lima tahun bersama, anda merasa tidak mencintainya lagi.

Kira-kira apa yang akan anda lakukan setelah itu?

Di luar sana, banyak orang yang ketika merasa cintanya mati akan memilih mati pula. Tetapi bagaimana anda hendak menyingkirkan seorang wanita abadi? Anda pun pergi keluar rumah, berbaring di bebatuan tajam, berjalan masuk ke hutan yang penuh pakis basah, dan anda menemukan sepohon beringin muda.

“Aku akan meniupkan jiwa kekasihku ke dalam pohon ini. Jika dia tidak bisa musnah karena telah ditakdirkan untuk abadi, maka dia akan abadi di dalam pohon ini.”

Anda lanjut pergi ke toko barang bangunan untuk membeli sebuah gunting, sebuah pot, sedikit pupuk, kawat dan semacam obat nyamuk untuk wanita itu yang kemudian akan membuatnya tertidur sejenak.

Anda mencabut beringin muda dari suatu tempat lalu meniup jiwa wanita itu ke dalamnya. Apa yang terjadi pada hari itu, hanya Anda dan Tuhan Anda yang tahu.

Tahun demi tahun yang lewat hanya akan memahirkan anda membentuk bonsai dari beringin itu sehingga melalui kedua tangan anda yang artistik, jenis-jenis bonsai akan diciptakan; bonsai tegak lurus untuk tahun chokkan, bonsai tegak berliku selama seabad tachiki, bonsai miring dalam semasa shakan, dan bonsai kengai bonsai menggantung.

Tiap tunas yang anda pangkas, tiap ranting yg tidak anda perlukan dan tiap batang yang anda bengkokan; untuk suatu keindahan dia butuh luka. Anda memberikan dia air secukupnya, cukup untuk membuatnya terpojok dan berhenti tumbuh. Anda membuat dunia wanita menjadi kecil. Maka daun dan batangnya mengikuti akarnya yang kerdil. Maka di bawah sinar matahari musim panas yang membara, wanita dalam sebatang bonsai yang kau ramu dengan mahir itu, menjadi tidak hidup, dan hanya cantik saja.

Hingga datanglah tamu dari negeri seberang laut, melihat pot dengan beringin yang anda ramu, dia jatuh cinta.

“Oh, alangkah manisnya beringin kecil ini. Maukah anda menjualnya kepadaku? Aku ingin menukarkan setengah hartaku untuk membawanya pulang.”

“Aku menamainya bonsai.” Katamu.

“Bonsai? Aku malah akan menamainya keindahan atau kebebasan atau bentuk cinta yang agung.” Dan dia membawa pergi wanita bonsai itu dari hadapan anda. Di negeri yang baru, lelaki yang membelinya darimu akan menjelaskan ke orang-orang dengan caranya sendirinya tentang wanita bonsai.

“Ini sebuah keindahan.” Katanya kepada generasinya, lalu mewariskannya kepada anak cucunya.

“Ini sebuah seni yang mahal.” Suara dari generasi berikutnya.

“Ini sebuah keseimbangan. Titik tertinggi melambangkan langit, titik terendah melambangkan bumi sedang yang tengah melambangkan manusia.” Generasi lainnya lagi menamainya dengan pura-pura agung. Ibaratnya sebuah lelucon yang tidak lucu, dalam sebuah acara komedi di televisi dimana pemirsa yang jemu pura-pura ikut tertawa.

Tapi, tuan, wanita itu akan selalu menanti Anda menjemputnya pulang.

******

Lalu dengan langkah tegap lelaki yang mengetahui kisah hidup wanita bonsai itu akan berjalan melintasi sungai, mengangkangi kali-kali mati, untuk sampai kepada Anda.

“Hai kekasihku, Aku ingin pulang.” Surat wanita bonsai yang pertama. Dia demikian putus asa sekarang. Ketika dia merasa jiwanya akan terbelenggu terus menerus dalam bonsai itu, dia pun menulis surat yang lain;

“Aku bonsai, aku tidak mau hidup terperangkap di dalam sini lagi. Aku ingin besar. Aku ingin memberingin. Aku ingin merasakan bebatuan, mineral dan tanah yang luas. Aku ingin merasakan bulan di malam gelap dengan lengkingan anjing buduk.”

Lelaki itu pun terus berlari di tengah kota, di trotoar dengan gambar-gambar di muka tembok, gambar bunga kamboja di dinding yang mati dan berdebu. Dia akan terus berlari, dalam mimpi dan dalam sadar sementara hari-harinya akan terbentuk dari pesan si wanita yang membias di antara puncak bangunan dan pohon-pohon setengah mati di pusat-pusat kota. Sesekali, lelaki itu akan kehausan, dia akan menginap sejenak membeli beberapa botol air, dan di bawah matahari yang telanjang dia akan terbakar namun pada yang sama dia merasa gentar karena pesan si wanita yang dingin.

“Kekasihku, apa yang kau dapat dengan mengurungku?” suara wanita pemberi pesan itu mendentum dalam dadanya.

Barangkali, dalam perjalanannya dia akan bertemu dan jatuh cinta kepada seorang gadis di kota yang dia singgah semalam. Tetapi cinta semacam itu hanya bertahan sehari sebelum angin menghapus jejaknya menjelang waktu makan malam tiba. Bagi laki-laki itu, cinta yang abadi hanyalah cinta wanita bonsai kepada Anda, Tuan.

Bila hari-harinya menjadi semu dan suntuk di pusat-pusat belanja, lelaki itu akan berlari ke tepi hutan, duduk sendirian di seberang jalan. Angin akan menggulungnya sejenak, menawarkan kesegaran yang sama dengan sungai di tengah musim kemarau, sebelum angin berlalu dan lindap di reranting.

“Mana yang lebih masuk akal, kekasihku, kebebasanku atau keindahanku? Tentu kau akan memilih keindahan. Itu sebabnya kau memberikan sebidang dunia yang kecil; meja kaca, pot antik dan sederet wangi-wangian. Kau membiarkanku pucat dan kehilangan warna, kau memberiku makan yang hanya cukup untuk tumbuh sejengkal dalam sepuluh tahun.”

Maka lelaki itu akan terus berjalan, berlari dan melolong. Di kepungan kota dan di kampung-kampung nelayan, di hutan dan di pinggir sungai kesepian. Bila malam datang, dia melihat lampu trotoar juga sekilas samar cahaya bulan dan bintang-bintang. Tetapi keraguan besar membucah dadanya; sampai kapankah dia akan mencarimu, Tuan?

Dari timur, inilah cerita mengenai wanita bonsai, ketika orang Jepang mengecilkan sebuah pohon ke dalam gelas, mereka sebenarnya sedang mengurung seorang wanita muda kesepian. Ini bukan kisah mengenai keharmonisan manusia dengan alam, tetapi tentang daun-daun yang dipangkas, dahan-dahan yang digantungkan batu, batang-batang yang terlilit kawat, akar yang pendek. Tahukah mereka, ketika mereka membuat miniatur dari pohon yang hidup, sebenarnya mereka sedang membuat kehidupan yang mengerikan.

****

Dedaunan pinus di suatu puri yang jauh, kembang cempaka jatuh berserakan pada musim berbunga; siapakah yang lebih sendu lagi daripada seorang lelaki yang berjalan sendiri di kegelapan hutan, hingga hanya sibakan pakis dan langkah kaki sendiri yang terdengar, membawa pesan sederhana bahwa burung yang disangkar akan selalu bermimpi terbang tinggi, tentang jiwa yang dipangkas akan mati perlahan walaupun dia hidup seribu atau sejuta tahun lagi?

Ketika jam dengan rantai metalik itu berdetak, ketika saat bersamaan waktu sedang berjalan mundur, ketika lembar-lembar surat di kitab merah akan terbuka_Anda, Tuan yang terlibat dalam masalah ini, tahukah mengapa wanita itu terus menanti anda hingga tahun ke seribu? Tidak bisa dibayangkan betapa tercengangnya anda nanti.

iiii

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *